Senin, 19 Januari 2009

PERENCANAAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

1. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran merupakan suatu system atau proses membelajarkan subjek belajar atau pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar pembelajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sebagai sebuah system, pembelajaran terdiri atas sejumlah komponen. Tujuan, materi, strategi, metode, media, pengorganisasian kelas, evaluasi dan tindak lanjut merupakan komponen-komponen yang membangun system pembelajaran. Sebagai sebuah proses, pembelajaran akan dimulai dari merencanakan program, menyiapkan perangkat, melaksanakan kegiatan dan diakhiri dengan penilaian atau evaluasi dan tindak lanjut.

Sehubungan dengan merencanakan program, sangat penting bagi seorang guru memperhatikan berbagai variasi atau model perencanaan pembelajaran. Meskipun tujuannya sama, prosedur penyusunan perencanaan dapat berbeda, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya, misalnya system pendidikan, guru, keadaan kebahasaan siswa.

Bertolak dari pemikiran di atas, model-model apa sajakah yang dapat dipakai oleh guru dalam merencanakan pembelajaran? Bagaimana prosedur merencanakan pembelajaran yang ditempuh oleh masing-masing model?

2. Model-Model Perencanaan Pembelajaran

a. Model Tyler

Menurut Tyler prinsip-prinsip pemilihan pengalaman belajar harus dapat memberikan kesempatan pembalajar untuk mengalami tingkah laku yang disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK). Pengalaman belajar harus dipilih dengan baik sehingga memberikan kepuasan pembelajar. Untuk itu Tyler mengemukakan model yang berproses dimulai dari menentukan tujuan pembelajaran, seleksi, organisasi, dan evaluasi pengalaman belajar.

Secara procedur, Model Tyler dikembangkan dimulai dengan empat pertanyaan utama, yaitu:

1) Tujuan pendidikan apa yang harus diperoleh?

2) Pengalaman-pengalaman belajar apa yang dapat disediakan sehingga tujuan tercapai?

3) Bagaimanan pengalaman belajar dapat diorganisasi secara efektif?

4) Bagaimana kita dapat memutuskan apakah tujuan dapat dicapai?

b. Model Taba

Taba (dalam Gafur, dalam Depdiknas, 2005) berpendapat bahwa sebaiknya perencanaan disusun oleh guru sendiri. Guru harus memulai dengan membuat unit-unit belajar mengajar melalui delapan langkah, yaitu

1) diagnosis kebutuhan, yaitu menentukan kebutuhan mereka karena perencanaan disusun untuk mereka,

2) perumusan tujuan yang akan dicapai,

3) seleksi materi, yakni pokok bahasan yang akan dipelajari, yang mengacu pada tujuan.

4) pengorganisasian materi, yakni penyusunan materi sesuai dengan tingkatan dan urutannya

5) seleksi pengalaman belajar, yakni metodologi dan strategi yang menuntut pembelajar terlibat dengan bahan ajar

6) organisasi kegiatan belajar, yaitu guru mengadaptasi strategi untuk siswanya

7) evaluasi, yakni menentukan apa yang akn dievaluasi dan alat apa yang dipergunakan

8) pengecekan keseimbangan dan urutan, yakni guru perlu mencari konsistensi antara berbagai bagian unit-unit belajar-mengajar untuk kelancaran pengalaman belajar dan keseimbangan jenis belajar.

c. Model Dick & Carey

Langkah-langkah yang dilakukan menurut model Dick & Carey adalah

1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum (TPU)

2) melaksanakan analisis isntruksional, yakni menentukan cara belajar yang diperlukan siswa

3) mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa

4) menuliskan tujuan isntruksional khusus (TPK) berdasarkan analisis instruksional dan rumusan tujuan pembelajaran umum

5) mengembangkan butir-butir tes yang kriterianya sudah ditentukan. Tes yang disusun harus dapat mengukur kemampuan siswa.

6) mengembangkan strategi isntruksional yang mencakup: kegiatan awal, penyajian informasi, latihan, umpan balik, tes dan kegiatan berikutnya.

7)mengembangkan dan memilih materi pengajaran, penjelasan siswa, tes dan petunjuk guru

8) menyusun dan melaksanakan evaluasi formatif yang dmaksudkan untuk mengumpulkan data yang dipakai untuk mengidentifikasi bagaimana memperbaiki pembelajaran

9) merevisi berdasarkan data yang diperoleh dari evaluasi formatif

10) melaksanakan evaluasi sumatif.

d. Model Kemp

Desain model Kemp merupakan jawaban pertanyaan 1) Apa yang harus dipelajari? (tujuan), 2) Prosedur dan sumber-sumber apa yang sesuai untuk mencapai tingkatan belajar yang diharapkan? (kegiatan dan sumber), 3) Bagaimana kita tahu bahwa tujuan tercapai? (evaluasi).

Berdasar pertanyaan di atas disusunlah perencanaan sebagai berikut:

1) tentukan tujuan, daftar topic, rumuskan tujuan umum dari setiap objek,

2) daftarlah karakteristik siswa yang penting karena untuk mereka perencanaan ini disusun,

3) rumuskan tujuan isntruksional khusus dalam bentuk pemerolehan belajar yang dapat diukur,

4) daftarlah isi/ materi yang menunjang setiap tujuan,

5) kembangkan pretes untuk mengetahui latar belakang pengetahuan atau pengetahuan awal,

6) seleksi kegiatan belajar mengajar dan sumber-sumber pengajaran,

7) koordinasikan sarana-sarana pendukung seperti biaya, tenaga, fasilitas dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran,

8) lakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.

e. Model Instruksional Development Institute (IDI)

Model ini terdiri atas tiga tahap, yakni

1) tahap penentuan (define)

Yang dilakukan dalam tahap ini adalah a) mengidentifikasi masalah, b) mengnalisis latar belakang siswa, kondisi sekolah dan sumber, c) pengelolaaan kelas: tugas, tanggung jawab dan jadwal,

2) tahap pengembangan (develop)

Yang dilakukan dalam tahap ini adalah a) identifikasi tujuan khusus, b) menentukan metode, media dan sumber, c) membuat prototype: paket pelajaran dan instrument evaluasi

3) tahap penilaian (evaluation)

Yang dilakukan dalam tahap ini adalah a) testing prototype dalam rangka evaluasi dan mengumpulkan data, b) menganalisis hasil: tujuan, metode, dan teknik evaluasi, c) implementasi : review, revisi dan tindak lanjut.

f. Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)

Model PPSI menunjukkan bahwa pengajaran merupakan suatu system dan berorientasi pada tujuan. Lima langkah pokok pengembangannya adalah sebagai berikut:

1) merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK/ TPK)

Merumuskan TIK/ TPK harus memenuhi empat criteria: a) menggunakan istilah operasional, b) berbentuk hasil belajar, c) berbentuk tingkah laku yang terukur, d) hanya satu jenis tingkah laku.

2) mengembangkan alat evaluasi

Guru menentukan jenis tes yang akan digunakan merencanakan pertanyaan untuk masing-masing tujuan.

3) menentukan kegiatan belajar mengajar

Guru merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan dan menetapkan kegiatan belajar yang perlu dan tak perlu ditempuh.

4) merencanakan program

Guru merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode, menentukan alat pelajaran yang akan dipakai dan menyusun jadwal.

5) melaksanakan program

Guru mengadakan tes awal, menyampaikan materi, mengadakan tes akhir dan perbaikan.

g. Model Satuan Pelajaran

Model SP dikembangkan melalui PPSI. Merupakan rencana pembelajaran untuk satu pokok bahasan dalam waktu tertentu untuk mencapai TPU/ TPK. Model ini dikembangkan berdasarkan pandangan bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu system yang harus terarah pada pencapaian tujuan. Tujuan harus jelas agar penyusunan bahan, alat evaluasi, perencanaan proses pembelajaran dapat dilaksanakan lebih terarah.

Kerangka Satuan Pelajaran menurut model ini adalah sebagai berikut

1) Identifikasi program, meliputi

a) bidang pengajaran

b) mata pelajaran/ subbidang pelajaran

c) pokok bahasan

d) kelas

e) semester (cawu)

f) waktu (berapa jam pelajaran)

2) Komponen-komponen SP

a) Tujuan Instruksional/ Pembelajaran Umum (TIU/ TPU)

b) Tujuan Instrukional/ Pembelajaran Khusus (TIK/ TPK)

c) Materi Pelajaran

d) Kegiatan Belajar Mengajar

e) Alat dan Sumber Pelajaran

f) Evaluasi

h. Model PBTE

Pengembangan program isntruksional dilaksanakan dengan pendekatan sistemik yang prosedurnya adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan asumsi-asumsi secara jelas, eksplisit dan khusus.

2) Mengidentifikasi kompetensi.

3) Merumuskan tujuan-tujuan secara dskriptif.

4) Menentukan tingkat-tingkat criteria dan jenis assement.

5) Pengelompokan dan penyusunan tujuan-tujuan pelajaran berdasarkan urutan psikologis untuk mencapai maksud-maksud instruksional.

6) Mendesain strategi instruksional.

7) Mengorganisasi system pengelolaan kelas.

8) Mencobakan program.

9) Menilai desain instruksional.

10) Memperbaiki kembali program.

i. Perencanaan Pengajaran Sistemis

Langkah-langkah perencanaan dalam model ini adalah sebagi berikut:

1) Identifikasi tugas-tugas

2) Analisis tugas

3) Penetapan kemampuan

4) Spesifikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap

5) Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan

6) Perumusan tujuan

7) Criteria keberhasilan

8) Organisasi sumber-sumber belajar

9) Pemilihan strategi pengajaran

10) Uji lapangan program

11) Pengukuran reliabilitas program

12) Perbaikan dan penyesuaian program

13) Pelaksanaan program

14) Monitoring program

j. Model Davis

Teknik merancang system belajar berlangsung dalam tahap-tahap sebagai berikut:

1) Menetapkan status system pengajaran

2) Merumuskan tujuan-tujuan pengajaran

3) Merencanakan dan melaksanakan evaluasi

4) Mendeskrepsikan dan mengkaji tugas

5) Melaksanakan prinsisp-prinsip belajar

k. Model ROPES

Model perencanaan pembelajaran ROPES dikemukakan oleh Hunts. Model ini terdiri atas langkah-langkah:

1. Review

Guru mencoba mengukur kesiapan siswa mempelajari materi dengan melihat pengalaman sebelumnya.

2. Overview

Guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menyampaikan isi secara singkat dan strategi yang akan digunakan.

3. Presentation

Proses pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan.

4. Exercise

Siswa mempraktikkan atau mengemukakan pandangan tentang materi pembelajaran yang telah diperoleh.

5. Summary

Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran sebagai bentuk penguatan.

3. Simpulan

Dari berbagai model perencanaan pembelajaran yang disajikan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang harus dirumuskan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran adalah:

a. tujuan instruksional (umum dan khusus)

b. penentuan materi

c. langkah-langkah kegiatan belajar mengajar

d. penentuan metode

e. pemilihan media

f. penyusunan evaluasi dan revisi

g. pemberian umpan balik

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa dan Sastra Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . Jakarta: Bumi Aksara.

Majid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar